Dari Bahan Apakah Jin Diciptakan?

43

Allah SWT berfirman: “Dia menciptakan jin dari nyalaan api.” (Ar-Rahman: 15)

Makna ayat ini adalah Allah SWT menciptakan jin dari api murni yang tiada asap, dan itulah yang disebutkan oleh Allah SWT dengan lafaz marij.

Ibnu Abbas RA berkata: “Marij adalah hujung dari api.”

Allah SWT berfirman: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27)

Maksudnya dari api yang sangat panas yakni dari api yang murni dan yang bebas dari sesuatu yang lain.

Allah SWT berfirman: “Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.'” (Al-A’raf: 12)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahawa bahan yang digunakan untuk menciptakan jin adalah api yang murni.

Dari Aisyah RA, dia berkata, bahawasanya Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyalaan api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disebutkan sifatnya untuk kamu.” (HR. Muslim)

Ketahuilah, wahai saudaraku, sesungguhnya makna: “Dia menciptakan jin dari api yang murni” itu bukan bererti dia membakar sebagaimana api, kerana hanya asalnya sahaya yang dari api. Sebagaimana asal manusia itu dari tanah liat, dia sekarang sudah menjadi manusia, bukan lagi tanah liat, Maha Suci Allah. Jin juga begitu, dia makhluk yang diciptakan dari api, tetapi sesudah dia tercipta, maka dia bukan lagi api!

Dalam sebuah hadis dari Abu Darda RA, dia berkata: “Rasulullah SAW mengimani solat berjemaah, kemudian kami mendengar baginda mengucapkan, ‘Aku memohon perlindungan kepada Allah dari kamu.'”

Baginda mengucapkan lagi: “Aku melaknat kamu dengan laknat Allah,” sebanyak tiga kali.

Baginda menghulurkan tangannya seolah-olah hendak meraih sesuatu. Tatkala baginda selesai dari solat, kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan sesuatu di dalam solat. Kami belum pernah mendengar engkau mengucapkan seperti itu sebelumnya, dan kami melihatmu menghulurkan tangan.”

Rasulullah SAW menjawab: “Sesungguhnya musuh Allah, Iblis, datang dengan membawa panah dari api untuk dia lemparkan ke wajahku. Aku katakan, ‘Aku berlindung kepada Allah dari kamu,’ tiga kali. Kemudian kukatakan, ‘Aku melaknat kamu dengan latnat Allah yang sempurna,’ sebanyak tiga kali, namun dia tidak mundur juga. Lalu aku ingin menangkapnya. Demi Allah, kalaulah tidak kerana doa saudaraku, Sulaiman, nescaya pada pagi harinya dia akan terikat dan anak-anak penduduk Madinah akan dapat bermain-main dengannya.'”

Apabila syaitan masih dalam bentuk asalnya, yakni api sebagaimana ia diciptakan darinya, tentu ia tidak perlu lagi panas api yang ia pegang dengan tangannya untuk melakukan perbuatan sebagaimana dalam hadis di atas.

Apabila jin itu masih berbentuk asalnya, yakni api, maka mengapa ia harus memegang obor api?

Bukankah ia sendiri adalah api, sehingga tidak perlu obor api?

Petikan daripada buku “Ensiklopedia Rawatan Islam”
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Prof. Sya’ban Ahmad Solih

Get real time updates directly on you device, subscribe now.